KONTRIBUSI ALUMNI, MALIYA SYABRIYANA UNTUK TEKNOKIMIA NUKLIR

Alumni merupakan aset penting dalam memberikan kontribusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan almamaternya. STTN sebagai kampus di bawah Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) yang fokus pada bidang iptek nuklir, memiliki alumni yang tersebar luas dan berkecimpung dalam teknologi kenukliran. Bagi alumni melepaskan status sebagai mahasiswa,bukan berarti menghilangkan ikatan dengan kampusnya. Ilmu pengetahuan dari kampus yang telah ia aplikasikan dalam dunia kerja dan pengalaman yang didapatkan selama studi lanjut atau pada dunia kerja dapat menjadi masukan untuk kampus almamaternya.

Maliya Syabriyana, S. ST., M. Sc., gadis kelahiran Aceh, 25 Juli 1988. Cita-citanya sejak awal adalah menjadi ahli di bidang nuklir dan Maliya telah mewujudkannya melalui beasiswa dari pemerintah daerahnya. Maliya berhasil lolos dalam seleksi beasiswa dari Pemda Aceh untuk melanjutkan studi D-IV di STTN. Tak hanya itu saja, Maliya juga kembali berhasil memperoleh beasiswa S2 di luar negeri di bidang kenukliran. Pada hari Selasa, 4 Juli 2017, Maliya Syabriyana hadir di STTN dalam kegiatan “Knowledge Sharing Event” bersama para mahasiswa STTN. Kegiatan “Knowledge Sharing Event” dibuka dengan sesi perkenalan dan ceramah motivasi kuliah dari Maliya Syabriyana. Maliya Syabriyana adalah alumni STTN Prodi Teknokimia Nuklir lulusan tahun 2011. Usai studi di STTN, Maliya melanjutkan studi S2 di National Tsing Hua University, Taiwan mengambil program master College of Nuclear Science, Departement Engineering and System Science.

Selama menempuh studi S2, Maliya melakukan penelitian terkait pengaruh iradiasi gamma pada pembuatan material dosimetri bahan organik yaitu Pentacene. Berdasarkan hasil penelitiannya, sangat dimungkinkan pentacene digunakan sebagai material dosimetri. Proyek penelitian ini sekarang masih terus berlanjut untuk menghasilkan transistor organik dan bahan semikonduktor yang dikerjakan oleh adik-adik angkatannya. Kini Maliya kembali ke tanah kelahirannya dan mengabdi menjadi dosen kopertis wilayah Aceh. Walaupun sudah tidak di Taiwan, Maliya tetap menjalin kerjasama dan networking dengan kampus almamaternya di Taiwan yang memiliki fasiltas laboratorium nuklir yang sangat lengkap. Pada akhir kegiatan “Knowledge Sharing Event” ini Maliya juga menjelaskan tentang beasiswa-beasiswa untuk studi di Taiwan serta penelitian-penelitian yang up to date terkait iptek nuklir.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *